16 Maret 2020

Coronavirus, Lockdown dan Penafsiran Bebas ala Warkop

Gambar oleh Dimitris Vetsikas dari Pixabay
Corona Virus (Covid-19) saya tidak menjelaskan apa itu virus korona, karena sebagian dari kita sejak istilah itu mulai ramai di media kita sudah dijejali dengan istilah tersebut. Masyarakat dunia sudah menjadikannya sebagai buah bibir dimanapun mereka berada, bertemu dan saling berdiskusi dengan tema korona ini. Bahkan di warung kopi acil pinggir kota pun tak kalah serunya ketika sudah membahas virus korona tersebut, dari mulai sejarah kemunculannya sampai kutukan-kutukan di belakang virus tersebut turut menghiasi tema virus ini. Bahkan bisa jadi beda pandangan pilihan politik saat pemilihan presiden pun bisa turut menghasilkan persepsi perbedaan soal kemunculan virus ini.

Kadang tersenyum tipis, pandangan agak ke samping, dahi berkerut sampai tertawa lebar turut menyertai obrolan saat mendengarkan beberapa orang berpandangan soal virus ini. Masyarakat pinggir kota kadang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi sebuah pandemi yang lagi ramai diberitakan saat ini. Aku berpikir hanya dengan bersikap seperti ini kita di pinggiran kota bisa sedikit santai dalam menghadapi pandemi yang sedang mendunia saat ini.

"Ini semua soal takdir” celetuk santai dari yang lainnya, “toh peringatan dibungkus rokok saja kita lawan” lalu mereka semua mengaminkan, sembari menghisap dan mengeluarkan asap rokok dari masing-masing mulutnya. Segelas kopi telah habis dan pembahasan korona makin ramai dengan update-an berita terbaru untuk dibahas. 


Televisi disudut warung bagian atas dengan volume yang agak besar tidak lupa terus menyampaikan berita-berita terbaru soal virus ini. Pilihan saluran berita menjadi hal wajib bagi sebuah warung kopi pinggiran kota mengingat tidak semua langganan warung tersebut memiliki telepon pintar untuk dijadikan rujukan dalam hal mendapatkan berita terbaru. Mungkin belum, bisa jadi ketika harga telepon pintar sudah murah dan warung kopi juga menyediakan akses internet gratis televisi di pojok warung tersebut hanya jadi penghias saja dan akan jarang “hidup”

Tetapi beberapa hari ini mereka mulai sedikit serius dalam menyikapi setiap berita baru yang tayang di televisi, jumlah korban meninggal yang menjadi soal. Setiap hari media televisi menyampaikan data terbaru korban meninggal dunia yang diakibatkan virus ini. Wajah serius menyimak sebuah berita mulai terlihat, sudah jarang celetukan-celetukan menghiasi setiap berita terbaru yang disampaikan oleh televisi.

Lockdown! Istilah ini pun mulai tidak asing lagi bagi mereka, work from home, belajar di rumah mulai mereka pertanyakan, yang dulunya mereka tidak pernah tahu apa itu lockdown pun mulai mereka sebutkan dalam perbincangan di warung kopi. Apa itu lockdown, istilah baru dan pastinya menambah referensi saat perbincangan ringan di warung kopi dengan penafsiran bebas mereka soal istilah lockdown yaitu berhenti bekerja. Walaupun sejatinya ketika lockdown memang diterapkan mereka tidak akan bebas berkumpul santai di warung-warung pinggir jalan.

Kebingungan sedikit bertambah lagi, ketika anak-anak mereka di liburkan dari sekolahnya. Pemerintah daerah kembali mengeluarkan istilah “local lockdown” kali ini istilah lockdown mendapat tambahan kata “local.” Semua sekolah mulai dari tingkatan TK sampai SMA diliburkan selama dua minggu tetapi tetap belajar di rumah masing-masing dengan mengurangi kegiatan diluar rumah. Bagi sebagian anak-anak mereka diliburkan berarti libur yang sesungguhnya. Apa daya masyarakat pinggiran kota belum terbiasa dengan kegiatan belajar secara online. Beda kasus dengan permainan online yang mereka kuasai saat ini.

Ada sedikit kegoncangan dengan perkembangan virus korona beberapa saat ini, masyarakat kita dari yang tadi santai menghadapi berita dampak virus korona yang terjadi di negara Tiongkok menjadi sedikit fokus saat virus ini mulai berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

Tetapi tetap saja, lucu-lucuan dalam membahas virus ini selalu ada. Setidaknya mereka mulai melupakan penafsiran-penafsiran dari mana virus ini berasal, seperti bahwa virus ini adalah “tentara Allah” dan apalah-apalah yang menyertainya. Kesadaran bersama akan dampak dari virus ini bagi kehidupan kita bersama bisa jadi menjadi modal dasar bagi kita semua untuk bersama menghadapinya.

“Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya” sebuah celetukan yang memberi semangat pun muncul, sembari beberapa orang menyeruput kopi lalu menghisap rokoknya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar