Mata, Hati dan Pikiran. Catatan-Mataharian adalah sebuah kesimpulan dari Mata, hati dan pikiran dalam keseharian.

Mar 22, 2020

#DiRumahAja Bukan Masalah untuk Kebaikan Bersama.

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay 
“Home is a shelter from storms-all sorts of storms.” — William J. Bennett

Dirumah saja??? Hari minggu, pastinya berkumpul dengan keluarga adalah sebuah keasyikan tersendiri, jauh-jauh hari telah direncanakan. Ada yang menghabiskan waktu bersama untuk pergi ke pantai, sekedar janjian makan siang bersama di tempat makan yang sesuai dengan hati atau ada juga yang hanya menghabiskan waktu untuk bermain sepuasnya dengan anak. Didalam ataupun diluar rumah hari minggu adalah saat yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga atau pun dengan teman bagi yang belum memiliki keluarga.
Ada pemandangan yang lain dalam beberapa hari ini, sejak adanya himbauan dari pemerintah buat warganya agar mengurangi banyak aktivitas diluar rumah. Bahkan pemerintah mewanti-wanti jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak agar masyarakat hanya berdiam diri di rumah saja. Himbauan ini disampaikan pemerintah sejak adanya warga Indonesia yang terjangkiti Coronavirus (Covid-19). Pemerintah lewat instansi terkait bahkan menerbitkan pemberitahuan untuk meliburkan anak-anak sekolah dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai Tingkat. Beberapa Universitas juga turut menghentikan aktivitas perkuliahan untuk sementara. Perkantoran pemerintah dan swasta pun mulai menginstruksikan pegawainya untuk bekerja dari rumah.
Pemerintah tidak mau mengambil resiko, mengingat Coronavirus sangat sulit terdeteksi karena sifatnya yang tidak terlihat secara kasat mata bahkan penderita yang terkena virus korona ini pun bisa saja tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu jika mereka terkena virus tersebut. Antisipasi terhadap penyebaran virus korona ini untuk meliburkan anak-anak sekolah sangat baik dan langkah nyata untuk mengurangi dampak penyebarannya. Apalagi anak-anak seumuran mereka memang senang bermain dan berkumpul selama jam aktif di sekolah.
Pembatasan sosial (social distancing) juga diberlakukan di beberapa daerah. Social distancing menurut Wikipedia adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi non farmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Langkah ini memang tepat diambil untuk mengurangi percepatan dari penularan virus korona ini. Langkah-langkah untuk memberlakukan pembatasan sosial memang bukan hal utama dalam memberhentikan penyebaran laju pertumbuhan virus korona ini, tapi bagian dari upaya antisipasi dalam melindungi diri dan keluarga dari penyebaran virus ini dirasakan sangat efektif, contohnya negara Tiongkok yang berhasil menekan penyebaran virus ini saat negara mereka di serang virus tersebut di Kota Wuhan Provinsi Huebei, Tiongkok. Bahkan kini mereka melaporkan jumlah penurunan korban yang sangat signifikan.
Bagi yang memang suka di rumah pastinya himbauan pemerintah ini dianggap biasa saja dan merasa senang dengannya, tapi bagaimana dengan yang biasa beraktifitas di luar rumah. Tidak semua orang memang mengikuti anjuran agar sebisa mungkin berada di rumah saja dalam kondisi seperti ini. Rasa tidak nyaman juga turut serta mengikutinya, bagi yang tidak biasa berdiam lama di rumah memang tidak mengasikkan tentunya. Tapi demi kebaikan bersama serta demi orang-orang tercinta mau tidak mau mereka harus menerapkannya.
Mengurangi aktifitas diluar rumah juga dapat mengurangi pekerjaan para tim perawat di rumah sakit yang telah banyak berkorban waktu dan terus berjuang menyembuhkan para korban virus korona. Mereka sangat berharap peran masyarakat untuk sebisa mungkin mengurangi faktor-faktor penyebab penyebaran virus ini, dengan adanya pembatasan sosial penyebaran virus ini akan sedikit berkurang sehingga bisa meringankan beban kerja mereka di rumah sakit. Semua elemen masyarakat harus bersama-sama melawan penyebaran virus ini.
Himbauan untuk dirumah saja bisa dijadikan sebagai moment kepada semua masyarakat untuk kembali kepada kehangatan keluarga yang telah lama menghilang pada keluarga Indonesia khususnya. Memikirkan kembali makna hubungan dalam keluarga, atau bisa jadi ini adalah awal untuk menumbuhkan kembali kecintaan sesama anggota keluarga dan kepedulian kita antar sesama warga masyarakat dalam menyikapi sesuatu yang sedang terjadi pada saat ini. Semoga kebaikan untuk kita semua, Bangsa Indonesia.

Share:

Mar 16, 2020

Coronavirus, Lockdown dan Penafsiran Bebas ala Warkop

Gambar oleh Dimitris Vetsikas dari Pixabay
Corona Virus (Covid-19) saya tidak menjelaskan apa itu virus korona, karena sebagian dari kita sejak istilah itu mulai ramai di media kita sudah dijejali dengan istilah tersebut. Masyarakat dunia sudah menjadikannya sebagai buah bibir dimanapun mereka berada, bertemu dan saling berdiskusi dengan tema korona ini. Bahkan di warung kopi acil pinggir kota pun tak kalah serunya ketika sudah membahas virus korona tersebut, dari mulai sejarah kemunculannya sampai kutukan-kutukan di belakang virus tersebut turut menghiasi tema virus ini. Bahkan bisa jadi beda pandangan pilihan politik saat pemilihan presiden pun bisa turut menghasilkan persepsi perbedaan soal kemunculan virus ini.

Kadang tersenyum tipis, pandangan agak ke samping, dahi berkerut sampai tertawa lebar turut menyertai obrolan saat mendengarkan beberapa orang berpandangan soal virus ini. Masyarakat pinggir kota kadang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi sebuah pandemi yang lagi ramai diberitakan saat ini. Aku berpikir hanya dengan bersikap seperti ini kita di pinggiran kota bisa sedikit santai dalam menghadapi pandemi yang sedang mendunia saat ini.

"Ini semua soal takdir” celetuk santai dari yang lainnya, “toh peringatan dibungkus rokok saja kita lawan” lalu mereka semua mengaminkan, sembari menghisap dan mengeluarkan asap rokok dari masing-masing mulutnya. Segelas kopi telah habis dan pembahasan korona makin ramai dengan update-an berita terbaru untuk dibahas. 


Televisi disudut warung bagian atas dengan volume yang agak besar tidak lupa terus menyampaikan berita-berita terbaru soal virus ini. Pilihan saluran berita menjadi hal wajib bagi sebuah warung kopi pinggiran kota mengingat tidak semua langganan warung tersebut memiliki telepon pintar untuk dijadikan rujukan dalam hal mendapatkan berita terbaru. Mungkin belum, bisa jadi ketika harga telepon pintar sudah murah dan warung kopi juga menyediakan akses internet gratis televisi di pojok warung tersebut hanya jadi penghias saja dan akan jarang “hidup”

Tetapi beberapa hari ini mereka mulai sedikit serius dalam menyikapi setiap berita baru yang tayang di televisi, jumlah korban meninggal yang menjadi soal. Setiap hari media televisi menyampaikan data terbaru korban meninggal dunia yang diakibatkan virus ini. Wajah serius menyimak sebuah berita mulai terlihat, sudah jarang celetukan-celetukan menghiasi setiap berita terbaru yang disampaikan oleh televisi.

Lockdown! Istilah ini pun mulai tidak asing lagi bagi mereka, work from home, belajar di rumah mulai mereka pertanyakan, yang dulunya mereka tidak pernah tahu apa itu lockdown pun mulai mereka sebutkan dalam perbincangan di warung kopi. Apa itu lockdown, istilah baru dan pastinya menambah referensi saat perbincangan ringan di warung kopi dengan penafsiran bebas mereka soal istilah lockdown yaitu berhenti bekerja. Walaupun sejatinya ketika lockdown memang diterapkan mereka tidak akan bebas berkumpul santai di warung-warung pinggir jalan.

Kebingungan sedikit bertambah lagi, ketika anak-anak mereka di liburkan dari sekolahnya. Pemerintah daerah kembali mengeluarkan istilah “local lockdown” kali ini istilah lockdown mendapat tambahan kata “local.” Semua sekolah mulai dari tingkatan TK sampai SMA diliburkan selama dua minggu tetapi tetap belajar di rumah masing-masing dengan mengurangi kegiatan diluar rumah. Bagi sebagian anak-anak mereka diliburkan berarti libur yang sesungguhnya. Apa daya masyarakat pinggiran kota belum terbiasa dengan kegiatan belajar secara online. Beda kasus dengan permainan online yang mereka kuasai saat ini.

Ada sedikit kegoncangan dengan perkembangan virus korona beberapa saat ini, masyarakat kita dari yang tadi santai menghadapi berita dampak virus korona yang terjadi di negara Tiongkok menjadi sedikit fokus saat virus ini mulai berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari.

Tetapi tetap saja, lucu-lucuan dalam membahas virus ini selalu ada. Setidaknya mereka mulai melupakan penafsiran-penafsiran dari mana virus ini berasal, seperti bahwa virus ini adalah “tentara Allah” dan apalah-apalah yang menyertainya. Kesadaran bersama akan dampak dari virus ini bagi kehidupan kita bersama bisa jadi menjadi modal dasar bagi kita semua untuk bersama menghadapinya.

“Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya” sebuah celetukan yang memberi semangat pun muncul, sembari beberapa orang menyeruput kopi lalu menghisap rokoknya masing-masing.
Share:

Mar 10, 2020

BPJS Batal Naik (bukan opini dari ahli)

BPJS Batal Naik (Dok. Pribadi)
BPJS batal naik,...

TOK,...MA (Mahkamah Agung) pun sudah mengetuk palu (mungkin gambarannya seperti itu) langsung gemanya tersebar sampai ke sosial media, sebuah dunia maya yang bising langsung bereaksi, senang dan bahagia, bahkan mereka dengan ikhlas menyebarkan ke seantero dunia per-sosmed-an. Sebuah dunia dimana suatu kejadian dapat dengan mudahnya menyebar ketangan-tangan para pemegang “sematpon” yang budiman.

BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bisa menjadi sebuah kalimat ajaib yang menyihir para warga +62 untuk bereaksi atas sekecil apapun itu, apalagi menyangkut dengan istilah BPJS ini. Rasanya saya pun pura-pura untuk tidak mengambil pusing dengan kejadian di MA tadi. Maaf pura-pura tidak ambil pusing pasti akan beda pengertiannya dengan tidak mau tahu, walaupun pada dasarnya kita tetap mau tau.

Saya adalah orang yang juga punya masalah dengan BPJS tentunya, ini rahasia sebenarnya. Keputusan yang diambil oleh MA pada dasarnya bisa menjadi angin segar bagi warga negara ini, di bawah bayang-bayang isu virus korona yang telah menghampiri negri ini. Beberapa hari ini kita disibukkan dengan “ketakutan” akan wabah virus korona, ditambah dengan serbuan berita-berita dari media mainstream maupun media "anu" yang begitu all out dalam memberitakan soal wabah ini.

Virus korona yang masuk di Indonesia bisa jadi sebenarnya sudah lama masuk, cuman kita saja yang belum sadar (ini pendapat saya) kepanikan pun terjadi, panic buying entah apa istilahnya pun terjadi apalagi setelah Presiden kita mengumumkannya di media. Dari aksi borong dan timbun masker sampai dengan aksi borong sembako pun terjadi. Rasanya wajar jika hal ini terjadi, yah mengingat itu tadi, media yang sangat gencar mengabarkan akan dampak dan bagaimana proses virus itu menyebar.

BPJS yang ditolak oleh MA semacam pereda sesaat dari kepanikan akan penyebaran virus korona dan teror berita yang menyertainya, teror disini adalah penyebaran berita-berita yang terlalu-lalu alias dibumbui apalah-apalah. BPJS batal naik yang ramai diberitakan dan dibagikan di sosial media juga bagian dari “kepanikan” cuma kepanikan disini bisa berarti lain. Bisa jadi justru pemerintah yang panik dengan keputusan ini.

Akankah pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan lain dari putusan MA kali ini, mengingat defisit yang terjadi pada tubuh BPJS di negeri ini bukan sedikit jumlahnya, konon katanya sampai puluhan trilliun besarannya. Malah uang dari rokok pun dipakai untuk menutupi besaran defisit yang terjadi di tubuh BPJS itu sendiri,heeem..."Rokok". Panik? Sudah pasti lah. Batalnya kenaikan ini akan menambah beban anggaran ditambah dengan kepanikan isu virus korona yang sedang terjadi saat ini. BPJS batal naik menjadi berita baik bagi warga negara dan menjadi berita buruk bagi keuangan negara, nah looh.

BPJS, Korona dan KITA

Bagi warga Indonesia sendiri isu virus korona ini telah mengambil sedikit kelelahan dalam keseharian, kita dihantui dengan beberapa mis-informasi yang berkembang di jagat sosial media. Kita telah di paksa untuk tunduk pada media dengan segala informasinya yang berkembang. Apakah ini semacam candu informasi yang terus diberikan kepada kita. Dampaknya apa? Bisa jadi kita kecanduan dan dipaksa untuk mengikuti setiap alur informasi yang berseliweran di hape canggih kita. Semacam FOMO (fear of missing out) Sekecil apapun perkembangan soal isu korona ini adalah kewajiban kita untuk mengetahuinya lebih cepat.

Sama dengan berita BPJS yang batal naik tadi diatas, berita ini lagi-lagi adalah berita segar nan menggembirakan bagi masyarakat kita dibawah bayang-bayang berita virus korona dengan semua dampaknya yang bisa terjadi jika kita memang lagi apes terkena atau terjangkitinya. Bahkan bisa juga semacam takdir yang tertulis bahwa kita sedang terjangkiti virus korona kelak. Saya berharap kita semua dapat melalui ”cobaan” ini dengan selalu berpikir positif bahwa semua ini akan segera bisa kita lewati bersama. Toh bukan kali ini saja masyarakat dunia berhadapan dengan ujian wabah penyakit yang mematikan. Beberapa puluh tahun silam pun masyarakat dunia pernah di serang dengan beberapa wabah yang sangat mematikan. Mungkin bisa jadi wabah virus berita hoax pun sebenarnya jadi sangat mematikan, minimal bisa mematikan akal sehat kita. 

(ini hanya opini -receh- saya)
Share:

Feb 3, 2020

Catatan Ringan (bukan) Pemalas


doc. pribadi
Ini kali pertama saya kembali menulis di blog ini, tahun telah berubah dari segi angka tapi semangat tetap pada hitungan dan hampir sama dengan tahun-tahun kemarin. Di awal tahun memang saya sengaja tidak melakukan ritual-ritual seperti  kebanyakan manusia sosial media pada umumnya, yaitu menuliskan pengharapan di tahun yang baru. Januari adalah bulan yang tidak ada sama sekali saya menuliskan sebuah catatan di blog ini. Padahal dalam hati berharap akan ada selalu catatan untuk mengisi blog ini. Loh bukannya ini juga bagian dari harapan di tahun baru.
Januari ternyata begitu cepat berlalu, banyak keinginan sebenarnya yang disusun diakhir tahun lalu, ada niat buat aktif kembali berolahraga seperti postingan di sosial media saya, ada keinginan untuk lebih dan lebih lagi dalam beberapa hal. Pastinya tulisan malam ini juga adalah bagian dari sebuah catatan di awal tahun bagi blog ini.
Selepas menghabiskan waktu untuk mengobrol di sebuah warung kecil pinggir jalan sembari menyeruput kopi dan milo hangat terbersit untuk kembali membuat sebuah catatan dalam blog ini, berharap sebagai awal yang bagus bagi isi blog ini kelak.
Ternyata membuat sebuah komitmen itu memang berat, padahal komitmen tersebut khususan bagi diri sendiri. Apalagi membuat komitmen dengan orang lain diluar diri pribadi, pasti lebih sulit. Menulis sebuah catatan dalam beberapa ratus kata harus diniatkan lebih dari sebulan lamanya. Betul kata orang-orang yang telah mampu membuat beberapa tulisan dalam waktu seminggu “menulis saja apa yang bisa kamu tulis.”
Bebrapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan literasi di akhir pekan disebuah tempat yang begitu nyaman. Dari bincang literasi sang penulis mengatakan bahwa menulis adalah hasil dari kegiatan membaca, semakin banyak yang kamu baca maka akan memudahkan dalam proses kepenulisan. Beliau adalah seorang penulis yang sangat terkenal di provinsi ini, bahkan beberapa cerpennya dia tuliskan hanya melalui telepon pintarnya sembari mengisi waktu kosong. Dalam acara tersebut hadir pula seorang penulis muda yang memilih tema sejarah sebagai bahan tulisannya, bahkan lewat tulisannya telah menghasilkan beberapa buku yang yang cukup bagus untuk dijadikan bahan referensi dalam hal kesejarahan di daerah ini.
Menulis atau memuat catatan ringan adalah sebuah pekerjaan yang berat ternyata, butuh banyak kosakata yang harus di kuasai termasuk tehnik kepenulisan biar menghasilkan sebuah tulisan yang enak dibaca. Bahan dasarnya memang harus lebih banayak membaca. Bahan bacaan yang bagus dan bermutu akan lambat laun mempengaruhi isi dari sebuah tulisan yang kita buat.
Kembali pada catatan di blog malam ini, mencoba kembali membuat sebuah catatan biar blog ini tidak berdebu atau istilah kasarnya di sarangin laba-laba. Saya sering memberi semangat pada siswa saya untuk membuat sebuah tulisan yang mereka senangi  karena itu akan menjadi cikal bakal mereka untuk dapat terus membuat sebuah tulisan yang bagus. Betapa mulianya saya kan, tapi ternyata saya sendiri malam untuk membuat sebuah tulisan sangat kesulitan, biar pun itu hanya sebuah catatan ringan terhadap sebuah hal yang saya alami dalam keseharian. Justru siswa saya ada yang telah rajin menulis lewat blog pribadi mereka atau pada sebuah saluran aplikasi menulis di sosial media. Rasa bangga pastinya,...tapi tunggu dulu yang harusnya bangga adalah mereka, karena mampu berubah dari sekedar menuliskan basa-basi  status alay di sosial media menjadi tulisan-tulisan yang mereka senangi.
Catatan malam ini saya buat sebagai penyemangat  dalam memulai kembali belajar menulis saya di tahun ini, apakah ini terlambat  sebagai pengharapan di awal tahun ini.
Biar waktu yang akan mengujinya. Karena konsistensi adlah pekerjaan paling berat di dunia, ini kata saya untuk mebuat sebuah alasan atas kemalasan saya. Sekian (Gutem-0220)


Share:

Dec 10, 2019

MPR, Rumah Kebangsaan (Catatan dari Ngobrol Bareng MPR RI)

Ngobrol Bareng MPR RI (dok. pribadi)

Sabtu (7/12/2019) bertempat diruang Jade Room, Quartz Office Tower Aston Balikpapan, MPR RI bersama Warganet Balikpapan mengadakan acara “Ngobrol Bareng MPR RI”. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MPR RI dalam mensosialisasikan empat pilar kebangsaan kepada seluruh elemen masyarakat, terkhusus warganet Balikpapan.  

Acara yang dipandu oleh Mira Nurfahlia sahid seorang social media influencer ini menjadi cukup meriah serta diselingi dengan canda tawa tetapi tetap serius untuk menyampaikan pesan-pesan empat pilar yang diusung oleh MPR RI. Hadir sebagai pembicara dari kesekretariatann Kepala Bagian PDSI Sekretariat Jenderal MPR RI Bapak Slamet, Kepala Biro Humas Setjen MPR RI Ibu Siti Fauziah serta Bapak Bambang Herlandi sebagai ketua Komunitas Blogger Balikpapan.

Dimulai dengan sebuah pertanyaan kepada peserta tentang apa saja yang terdapat didalam empat pilar kebangsaan tersebut. Beberapa peserta menjawab dengan benar tetapi kebanyakan jawabannya kurang tepat. Semua peserta merasa kembali bertanya-tanya, mengapa jawaban mereka kurang tepat. Semua jawaban dinilai  kurang tepat saat menyebutkan UUD 1945, kenapa kurang tepat. Setelah dijelaskan, ternyata penyebutan UUD 1945 saat ini harus ditambah dengan Negara Republik Indonesia, jadi penyebutan yang benar adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Ada pun empat pilar kebangsaan adalah sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai Dasar Negara
2. UUD NRI 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR
3. NKRI sebagai Bentuk Negara
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara

Saya sebagai peserta jadi tercerahkan, minimal saya jadi mengetahui penyebutan UUD NRI 1945 yang benar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari pengetahuan ini saya jadi faham bahwa hal dasar penyebutan seperti ini bisa berdampak besar kedepannya. Sebagai seorang pengajar pastinya hal seperti ini akan menambah perbendaharaan pengetahuan dan akan saya bagikan kembali kepada siswa-siswi ditempat saya mengajar.

Pada kesempatan yang sama pihak MPR RI juga berharap kepada para peserta Ngobrol Bareng MPR RI di Balikpapan untuk bisa menyebarkan kembali informasi-informasi yang positif kepada para warganet lainnya untuk bisa terus menyebarkan konten-konten posistif lewat dunia maya sebagaimana diketahui bahwa dunia maya sekarang sudah menjadi saluran utama dalam mencari informasi-informasi yang serba cepat. MPR RI juga berharap bahwa minimal para peserta bisa kembali menyebarkan visi, misi dan tujuan MPR sebagai rumah kebangsaan , pengawal ideologi pancasila, dan kedaulatan rakyat.

Pada sesi terakhir peserta diajak untuk bertanya atau pun menyampaikan saran yang membangun kepada pihak MPR RI, peserta yang hadir tentunya tidak melewatkan kesempatan ini untuk menyampaikan pertanyaan mereka kepada para nara sumber. Semua pertanyaan peserta yang disampaikan saat itu langsung diberikan tanggapan dari para nara sumber bahkan ada pula yang memberikan saran yang menarik kepada MPR RI bagaimana interaksi yang menarik antara MPR RI kepada warga masyarakat melalui teknologi saat ini,mengingat interaksi yang tepat bagi kaum milenial saat ini adalah dengan melalui konten-konten sosial media yang menarik. Sehingga visi kebangsaan yang ingin disampaikan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.  


MPR RI sebuah VISI

Booklet (dok. pribadi)

MPR RI atau yang biasa disebut Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia memiliki VISI “MPR MENJADI RUMAH KEBANGSAAN, PENGAWAL IDEOLOGI PANCASILA, DAN KELADULATAN RAKYAT."

Makna dari Visi MPR diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a. MPR menjadi rumah kebangsaan memiliki makna bahwa MPR adalah representasi Majelis Kabangsaan yang menjalankan mandat konstitusional guna menjembatani berbagai arus perubahan, pemikiran, aspirasi masyarakat dan daerah dengan mengedepankan etika politik kebangsaan yang bertumpu pada toleransi, kebhinekaan, dan gorong royong dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b.  MPR sebagai pengawal ideologi Pancasila memiliki makna bahwa MPR sebagai satu-satunya lembaga negara pembentuk konstitusi ( the making of the constitution) adalah pengawal ideologi negara (the guardian of the state ideology) Pancasila agar tetap hidup menjadi bintang pemandu dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan tujuan bernegara.
c. MPR sebagai pengawal kedaulatan rakyat memiliki makna bahwa MPR adalah lembaga negara pelaksana kedaulatan rakyat yang memiliki kewenangan tertinggi untuk mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar, menjamin tegaknya kedaulatan rakyat dan supremasi konstitusi dalam penyelenggaraan kenegaraan dan kemasyarakatan sesuai dengan dinamik aspirasi masyarakat dan daerah, perkembangan politik dan ketatanegaraan yang berlandaskan pada nilai-nilai pancasila.

Share:

Wikipedia

Search results

Terjemahan

Total Pageviews

Berlangganan Lewat Email

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *