Mata, Hati dan Pikiran. Catatan-Mataharian adalah sebuah kesimpulan dari Mata, hati dan pikiran dalam keseharian.

Showing posts with label Balikpapan. Show all posts
Showing posts with label Balikpapan. Show all posts

Mar 10, 2020

BPJS Batal Naik (bukan opini dari ahli)

BPJS Batal Naik (Dok. Pribadi)
BPJS batal naik,...

TOK,...MA (Mahkamah Agung) pun sudah mengetuk palu (mungkin gambarannya seperti itu) langsung gemanya tersebar sampai ke sosial media, sebuah dunia maya yang bising langsung bereaksi, senang dan bahagia, bahkan mereka dengan ikhlas menyebarkan ke seantero dunia per-sosmed-an. Sebuah dunia dimana suatu kejadian dapat dengan mudahnya menyebar ketangan-tangan para pemegang “sematpon” yang budiman.

BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bisa menjadi sebuah kalimat ajaib yang menyihir para warga +62 untuk bereaksi atas sekecil apapun itu, apalagi menyangkut dengan istilah BPJS ini. Rasanya saya pun pura-pura untuk tidak mengambil pusing dengan kejadian di MA tadi. Maaf pura-pura tidak ambil pusing pasti akan beda pengertiannya dengan tidak mau tahu, walaupun pada dasarnya kita tetap mau tau.

Saya adalah orang yang juga punya masalah dengan BPJS tentunya, ini rahasia sebenarnya. Keputusan yang diambil oleh MA pada dasarnya bisa menjadi angin segar bagi warga negara ini, di bawah bayang-bayang isu virus korona yang telah menghampiri negri ini. Beberapa hari ini kita disibukkan dengan “ketakutan” akan wabah virus korona, ditambah dengan serbuan berita-berita dari media mainstream maupun media "anu" yang begitu all out dalam memberitakan soal wabah ini.

Virus korona yang masuk di Indonesia bisa jadi sebenarnya sudah lama masuk, cuman kita saja yang belum sadar (ini pendapat saya) kepanikan pun terjadi, panic buying entah apa istilahnya pun terjadi apalagi setelah Presiden kita mengumumkannya di media. Dari aksi borong dan timbun masker sampai dengan aksi borong sembako pun terjadi. Rasanya wajar jika hal ini terjadi, yah mengingat itu tadi, media yang sangat gencar mengabarkan akan dampak dan bagaimana proses virus itu menyebar.

BPJS yang ditolak oleh MA semacam pereda sesaat dari kepanikan akan penyebaran virus korona dan teror berita yang menyertainya, teror disini adalah penyebaran berita-berita yang terlalu-lalu alias dibumbui apalah-apalah. BPJS batal naik yang ramai diberitakan dan dibagikan di sosial media juga bagian dari “kepanikan” cuma kepanikan disini bisa berarti lain. Bisa jadi justru pemerintah yang panik dengan keputusan ini.

Akankah pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan lain dari putusan MA kali ini, mengingat defisit yang terjadi pada tubuh BPJS di negeri ini bukan sedikit jumlahnya, konon katanya sampai puluhan trilliun besarannya. Malah uang dari rokok pun dipakai untuk menutupi besaran defisit yang terjadi di tubuh BPJS itu sendiri,heeem..."Rokok". Panik? Sudah pasti lah. Batalnya kenaikan ini akan menambah beban anggaran ditambah dengan kepanikan isu virus korona yang sedang terjadi saat ini. BPJS batal naik menjadi berita baik bagi warga negara dan menjadi berita buruk bagi keuangan negara, nah looh.

BPJS, Korona dan KITA

Bagi warga Indonesia sendiri isu virus korona ini telah mengambil sedikit kelelahan dalam keseharian, kita dihantui dengan beberapa mis-informasi yang berkembang di jagat sosial media. Kita telah di paksa untuk tunduk pada media dengan segala informasinya yang berkembang. Apakah ini semacam candu informasi yang terus diberikan kepada kita. Dampaknya apa? Bisa jadi kita kecanduan dan dipaksa untuk mengikuti setiap alur informasi yang berseliweran di hape canggih kita. Semacam FOMO (fear of missing out) Sekecil apapun perkembangan soal isu korona ini adalah kewajiban kita untuk mengetahuinya lebih cepat.

Sama dengan berita BPJS yang batal naik tadi diatas, berita ini lagi-lagi adalah berita segar nan menggembirakan bagi masyarakat kita dibawah bayang-bayang berita virus korona dengan semua dampaknya yang bisa terjadi jika kita memang lagi apes terkena atau terjangkitinya. Bahkan bisa juga semacam takdir yang tertulis bahwa kita sedang terjangkiti virus korona kelak. Saya berharap kita semua dapat melalui ”cobaan” ini dengan selalu berpikir positif bahwa semua ini akan segera bisa kita lewati bersama. Toh bukan kali ini saja masyarakat dunia berhadapan dengan ujian wabah penyakit yang mematikan. Beberapa puluh tahun silam pun masyarakat dunia pernah di serang dengan beberapa wabah yang sangat mematikan. Mungkin bisa jadi wabah virus berita hoax pun sebenarnya jadi sangat mematikan, minimal bisa mematikan akal sehat kita. 

(ini hanya opini -receh- saya)
Share:

Dec 10, 2019

MPR, Rumah Kebangsaan (Catatan dari Ngobrol Bareng MPR RI)

Ngobrol Bareng MPR RI (dok. pribadi)

Sabtu (7/12/2019) bertempat diruang Jade Room, Quartz Office Tower Aston Balikpapan, MPR RI bersama Warganet Balikpapan mengadakan acara “Ngobrol Bareng MPR RI”. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MPR RI dalam mensosialisasikan empat pilar kebangsaan kepada seluruh elemen masyarakat, terkhusus warganet Balikpapan.  

Acara yang dipandu oleh Mira Nurfahlia sahid seorang social media influencer ini menjadi cukup meriah serta diselingi dengan canda tawa tetapi tetap serius untuk menyampaikan pesan-pesan empat pilar yang diusung oleh MPR RI. Hadir sebagai pembicara dari kesekretariatann Kepala Bagian PDSI Sekretariat Jenderal MPR RI Bapak Slamet, Kepala Biro Humas Setjen MPR RI Ibu Siti Fauziah serta Bapak Bambang Herlandi sebagai ketua Komunitas Blogger Balikpapan.

Dimulai dengan sebuah pertanyaan kepada peserta tentang apa saja yang terdapat didalam empat pilar kebangsaan tersebut. Beberapa peserta menjawab dengan benar tetapi kebanyakan jawabannya kurang tepat. Semua peserta merasa kembali bertanya-tanya, mengapa jawaban mereka kurang tepat. Semua jawaban dinilai  kurang tepat saat menyebutkan UUD 1945, kenapa kurang tepat. Setelah dijelaskan, ternyata penyebutan UUD 1945 saat ini harus ditambah dengan Negara Republik Indonesia, jadi penyebutan yang benar adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Ada pun empat pilar kebangsaan adalah sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai Dasar Negara
2. UUD NRI 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR
3. NKRI sebagai Bentuk Negara
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara

Saya sebagai peserta jadi tercerahkan, minimal saya jadi mengetahui penyebutan UUD NRI 1945 yang benar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari pengetahuan ini saya jadi faham bahwa hal dasar penyebutan seperti ini bisa berdampak besar kedepannya. Sebagai seorang pengajar pastinya hal seperti ini akan menambah perbendaharaan pengetahuan dan akan saya bagikan kembali kepada siswa-siswi ditempat saya mengajar.

Pada kesempatan yang sama pihak MPR RI juga berharap kepada para peserta Ngobrol Bareng MPR RI di Balikpapan untuk bisa menyebarkan kembali informasi-informasi yang positif kepada para warganet lainnya untuk bisa terus menyebarkan konten-konten posistif lewat dunia maya sebagaimana diketahui bahwa dunia maya sekarang sudah menjadi saluran utama dalam mencari informasi-informasi yang serba cepat. MPR RI juga berharap bahwa minimal para peserta bisa kembali menyebarkan visi, misi dan tujuan MPR sebagai rumah kebangsaan , pengawal ideologi pancasila, dan kedaulatan rakyat.

Pada sesi terakhir peserta diajak untuk bertanya atau pun menyampaikan saran yang membangun kepada pihak MPR RI, peserta yang hadir tentunya tidak melewatkan kesempatan ini untuk menyampaikan pertanyaan mereka kepada para nara sumber. Semua pertanyaan peserta yang disampaikan saat itu langsung diberikan tanggapan dari para nara sumber bahkan ada pula yang memberikan saran yang menarik kepada MPR RI bagaimana interaksi yang menarik antara MPR RI kepada warga masyarakat melalui teknologi saat ini,mengingat interaksi yang tepat bagi kaum milenial saat ini adalah dengan melalui konten-konten sosial media yang menarik. Sehingga visi kebangsaan yang ingin disampaikan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.  


MPR RI sebuah VISI

Booklet (dok. pribadi)

MPR RI atau yang biasa disebut Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia memiliki VISI “MPR MENJADI RUMAH KEBANGSAAN, PENGAWAL IDEOLOGI PANCASILA, DAN KELADULATAN RAKYAT."

Makna dari Visi MPR diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a. MPR menjadi rumah kebangsaan memiliki makna bahwa MPR adalah representasi Majelis Kabangsaan yang menjalankan mandat konstitusional guna menjembatani berbagai arus perubahan, pemikiran, aspirasi masyarakat dan daerah dengan mengedepankan etika politik kebangsaan yang bertumpu pada toleransi, kebhinekaan, dan gorong royong dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b.  MPR sebagai pengawal ideologi Pancasila memiliki makna bahwa MPR sebagai satu-satunya lembaga negara pembentuk konstitusi ( the making of the constitution) adalah pengawal ideologi negara (the guardian of the state ideology) Pancasila agar tetap hidup menjadi bintang pemandu dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan tujuan bernegara.
c. MPR sebagai pengawal kedaulatan rakyat memiliki makna bahwa MPR adalah lembaga negara pelaksana kedaulatan rakyat yang memiliki kewenangan tertinggi untuk mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar, menjamin tegaknya kedaulatan rakyat dan supremasi konstitusi dalam penyelenggaraan kenegaraan dan kemasyarakatan sesuai dengan dinamik aspirasi masyarakat dan daerah, perkembangan politik dan ketatanegaraan yang berlandaskan pada nilai-nilai pancasila.

Share:

Nov 7, 2019

Minggu yang Berkesan dan Terjadi Lagi

Dok. Pribadi

       Minggu itu, adalah hari yang paling berkesan, berkesan dan juga paling membingungkan. Bukan itu saja, beberapa hari sebelumnya juga ada kejadian yang sangat berkesan. Saya bukan membahas soal berkesannya semua kejadian, tapi bagaimana semua kesan tersebut menjadi sangat bernilai. Bernilainya sebuah kejadian bisa jadi memang menjadi kesan tersendiri di dalam kehidupan. 
    Tidak ada kendala satu pun ketika semua kelengkapan dan keamanan di periksa sebelum melakukan perjalanan. Tekanan ban normal, sistem pengereman semua normal dan berfungsi dengan baik, keamanan dari sisi perlengkapan pakaian juga sudah memadai, dan terpenting adalah bahan bakar sudah terisi cukup untuk melakukan perjalanan rutin. 
   Rute Samarinda – Balikpapan (Sambal) biasanya memakan waktu normal 1 jam 50an menit, bisa lebih, tapi di bawah waktu tempuh tersebut belum pernah saya capai. Waktu tempuh biasanya 2 Jam 30an menit itu ditambah dengan waktu istirahat di sebuah warung. Biasanya saya akan beristirahat di KM. 57, di sebuah warung yang menjadi langganan selama melakukan perjalan rute Sambal. Warung sederhana yang biasa saya sebut warung Kai, karena yang mengelolanya biasa saya panggil kai tapi kini sang kai telah meninggal dunia dilanjutkan sama nenek dan anaknya yang sekaligus sebgai penjaga bangunan tower di belakang warung mereka. 
    Sebenarnya warung tersebut tidak mesti saya gunakan untuk beristirahat selama melakukan perjalanan, SPBU yang berda di sepanjang jalan Sambal juga saya gunakan untuk beristirahat jika saat-saat tertentu harus mengisi bahan bakar motor roda dua. SPBU di sepanjang rute Sambal juga menyediakan tempat istirahat,toilet, warung dan tempat untuk melakukan ibadah.
Baca Juga: Sebotol Air Pembuka Cerita
     Motor hitam ini pun telah siap untuk berjalan menempuh jalan rute Sambal, rute yang menjadi andalan jika harus berangkat ke Balikpapan (Gn. Tembak). Tidak ada perasaan yang aneh, kecuali kaki saya yang masih sedikit terasa sakit setelah beberapa hari sebelumnya mendapatkan serangan penyakit “lucu”. Kenapa lucu? Karena saya juga bingung kenapa saya bisa mendapatkan sakit tersebut beberapa hari sebelumnya. 
    Rata-rata kecepatan kendaraan roda dua yang saya gunakan berkisar di antaa 70-90 Km/jam, kadang juga bisa diatas kecepatan 100 Km/jam jika ada sesuatu yang harus saya kerjakan dengan cepat. Tapi kecepatan diatas 100 Km/jam sangat jarang, mengingat kecepatan tersebut sangat beresiko. Dari rumah sampai daerah Km 5 saya menggunakan kecepatan yang standart diantara 40 – 60 Km/Jam, lepas daerah Km. 5 arah Samarinda barulah saya mulai menaikkan kecepatan motor saya. 
   Selama perjalanan untuk menghilangkan kantuk biasanya saya akan sedikit bernyanyi atau memakan permen agar tetap fokus selama mengendarai roda dua. Hal yang jarang saya lakukan untuk tetap fokus selama dalam perjalanan adalah mendengarkan musik dengan menggunakan headset dari smartphone. Seperti tips dari beberapa pengendara lainnya yang ketemu. Jika menggunakan headset takutnya saya tidak mendengarkan klakson dari pengendara di belakang yang ingin mendahului. 
  Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, seperti yang kebanyakan orang bilang jika akan medapatkan kecelakan. Memasuki kawasan Hutan Bukit Suharto yang terkenal ini kecepatan tetap normal seperti biasanya diatas kecepatan 70 Km/jam. Sambil tetap bernyanyi untuk tetap fokus yang biasa saya lakukan untuk menghilangkan kantuk dan tetap konsentrasi dalam perjalanan selama ini. Setelah melewati Warung Tuak di kawasan Bukit Suharto yang biasa juga digunakan oleh pengendara roda dua lainnya untuk melakukan istirahat kejadian itu pun terjadi. 
    Lepas belokan kanan jalan menurun yang berbentuk cekungan lalu sedikit tikungan naik ke arah kiri kejadian paling menakutkan setiap pengendara roda dua terjadi. Motor lepas kendali keluar jalur aspal utama. Saat ban depan motor keluar badan jalan aspal utama saya masih ingat semua dan berusaha untuk tetap menguasai stang motor agar kembali memasuki badan jalan kembali tetapi lubang yang berada di pinggir jalan membuat motor oleng. Badan jalan yang agak tinggi karena ada lubang di pinggir jalan tersebut membuat motor gagal naik kembali ke jalan dengan posisi normal. 
      Motor terhempas ke jalan dengan keras, sedangkan saya masih tetap memegangi stang motor agar posisi motor tidak terlalu liar diatas jalan takut jika ada kendaraan lain muncul dari arah yang berlawanan. Hempasan keras badan ke tangki motor yang saya rasakan di jalan membuat luka memar di bagian dada. Sebagaian badan juga terasa sakit, bahkan tangan kanan saya terluka sedikit akibat terseret di jalan. Saat kejadian suasana jalan Sambal agak sepi, selang beberapa saat ketika terjatuh ada mobil yang melintas dan memberikan pertolongan kepada saya untuk membantu memindahkan posisi motor ke pinggir jalan agar tidak menghalangi pengendara lainnya. 
     Memadangi motor yang bagian depannya rusak bahkan posisi stang tidak pada posisinya seperti semula membuat saya berpikir bagaimana membawa motor ini kembali ke rumah, sembari sedikit menahan sakit di bagian dada saya dan melihat kondisi badan kembali. Melihat kembali jeans yang sobek di daerah lututnya, jaket sedikit robek di bagian tanan kanan akibat gesekan di aspal. Lutut ternyata kembali mengalami cedera, bahu kanan terasa sakit sekali serta bagian dada juga sakit akibat benturan dengan tangki motor. 
     Menghubungi orang terdekat adalah kewajiban bagi saya ketika mendapati masalah saat dalam perjalanan, ini sangat penting agar mereka tidak merasa kalut dan was-was akan kondisi kita saat terjadi kecelakaan di jalan. Memberitahukan bahwa kondisi saya baik-baik saja dan bisa kembali pulang dengan menggunakan motor ini lagi 
Motor saya hidupkan, semua fungsi kembali menyala dengan normal. Injektor berfungsi dengan baik, lampu depan belakang masih berfungsi, lampu “reting” kanan-kiri juga masih menyala walau yang depan sudah patah semua. Rem dan ban semua kondisinya bagus cuma posisi stang yang tidak lagi “senter” seprti motor normal biasanya. 
     Kecelakaan yang lumayan mengerikan ini kembali terjadi lagi setelah bebrapa tahun yang lalu saya juga mengalami kecelakaan tunggal,semuanya terjadi pada siang hari juga. Dulu saya juga mengalami kecelakaan yang hebat di tikungan kawasan jalan Samarinda pada saat kondisi sedang hujan. Kini kecelakaan sperti yang dulu pun terjadi lagi saat ini, di siang hari cuma kondisi saat ini panas terik tidak ada hujan seperti kejadian dulu. 
    Setelah dirasa cukup terkumpul tenaga, saya kembali memulai perjalanan untuk pulang sambil terus berpikir dan bertanya “kenapa kecelakaan ini bisa terjadi?” sebuah pertanyaan yang sederhana namun sangat malu untuk di temukan jawabannya. Sesekali berdendang kembali selama dalam perjalanan pulang, menyanyikan sebaris lirik lagu yang begitu viral saat ini

" Entah apa yang merasukiku,.....”

    Yupz,..semua telah terjadi, hari minggu 27 Okteber 2019 akan dikenang menjadi hari dimana sebuah kejadian “Anu” kembali terjadi. 








Share:

Nov 4, 2019

Setelah 25 Tahun, Diantara Titik-titik Kenangan

Gerbang SMAN 7 Balikpapan (Dok. Pribadi)
Balikpapan (03-11-2019), bisa jadi ini hari merupakan hari yang paling berbahagia bagi para lulusan SMAN 7 Balikpapan dari lulusan tahun 1997-2019,semua angkatan  berbaur menjadi satu dalam acara Reuni Akbar 25 Tahun SMAN 7 Balikpapan. Acara yang mengambil tempat langsung di halaman sekolah ini juga bertujuan untuk mengenang kembali serta merasakan atmosfir masa-masa sekolah bagi para peserta. Kenangan para alumni dengan sekolah maupun kenangan alumni bersama para dewan guru pada zaman ketika mereka bersekolah dulu. Reuni Akbar SMAN 7 Balikpapan tahun 2019 ini terbilang sukses dalam hal pelaksanaannya, hal ini bisa terlihat dari wajah-wajah para panitia serta seluruh peserta yang bisa hadir selama acara ini berlangsung.
Kepala Sekolah SMAN 7 Balikpapan, Bapak Ali Arham beserta dewan guru dan undangan yang terhormat (dok. pribadi)
Dalam susunan acara, mestinya acara dimulai dengan senam bersama dan jalan santai bersama seluruh panitia dan peserta yang hadir di acara ini, tetapi acara jalan santai harus di hilangkan karena sedari pagi daerah Lamaru-Balikpapan Timur di guyur hujan.  Acara senam bersama dibawah awan mendung pagi berlangsung penuh semangat serta penuh tawa karena para peserta yang mengikuti senam tersebut terlihat agak susah untuk mengikuti gerakan dari instruktur senam yang berada diatas panggung utama.
Tidak semua peserta yang telah terdaftar bisa mengikuti rangkaian acara hari itu, ada juga beberapa peserta yang telah terdaftar tidak dapat mengikuti acara pada hari yang bersejarah ini. Kesibukan atau jadwal yang berbenturan dengan acara ini juga menjadi sebab, mengingat acara ini bisa dikatakan cukup singkat dalam hal persiapan maupun informasi pelaksanaannya kepada setiap koordinator angkatan alumni. Tetapi para alumni yang tidak bisa hadir tetap memberikan apresiasi yang positif terhadap acara yang berlangsung ini serta memberikan dukungan penuh serta harapannya kepada panitia selanjutnya agar acara seperti ini bisa tetap selalu ada di tahun-tahun berikutnya.
Alumni di tenda utama acara Reuni Akbar (dok. pribadi)
Bazaar pendukung acara Reuni Akbar (dok. pribadi)
Peserta yang hadir dalam acara ini biasanya  akan berkumpul sesuai dengan angkatannya masing-masing, tetapi banyak juga yang membaur dengan lintas angkatan untuk saling menyapa. Ada juga yang langsung melakukan “jalan kenangan” mengenang kembali titik-titik yang mereka anggap bersejarah ditempat mereka bersekolah dulu. Para peserta dari angkatan awal cukup terkesima dengan kemajuan dan perkembangan sekolah yang cukup pesat. Banyak perubahan yang terlihat baik dari sisi sarana dan prasarana serta perkembangan jumlah siswa yang semakin banyak.
Bangunan awal yang banyak perubahan (dok. pribadi)
“Dulu lapangan ini masih becek dan berlumpur” terdengar sepintas kalimat obrolan dari peserta, sepertinya dari angkatan awal sekolah ini.
SMAN 7 Balikpapan kala itu (Sumber: Foto Grup WA)
Teringat masa diantara 1996-1999, jalan masuk menuju sekolah yang kadang becek karena hujan bahkan sampai  banjir memaksa kita untuk membuka sepatu, mengangkat celana, belum lagi suasana sekolahan baru yang semua fasilitas serba terbatas. Lapangan tengah sekolah yang masih tanah liat di tumbuhi rerumputan yang juga akan becek jika hujan mengguyur. Ruang kelas yang masih terbatas harus dibagi antara kelas pagi dan kelas sore. Tidak ada pagar kelilingnya, cuma dikelilingi dengan kebun warga, mau bolos sekolah itu sangat mudah dilakukan pastinya. Lokasi parkiran yang masih bisa dihitung dangan jari jumlah motor yang terparkir, karena memang hampir semua siswanya kala itu masih menggunakan "angkot" sebagai alat transportasi menuju ke sekolah, jangan ditanya soal "handphone" apalagi "smartphone" 
Tapi itu adalah titik awal, semua butuh proses. Dan sekarang kami semua menyaksikan sebuah perubahan di 25 tahun usia sekolah ini. Semua dan dulu memang titik awal dari sebuah perubahan yang lebih baik. Kini sekolah ini menjelma menjadi sekolahan yang terbesar di daerah ini.
Kembali ke acara....
Tarian dari para Alumni dan panitia acara (dok. pribadi)
Hiburan dari Perwakilan angkatan dan panitia (dok. pribadi)
Setelah senam bersama acara dimulai dengan membacakan susunan acara, hiburan dari perwakilan angkatan, sambutan-sambutan,pembentukan Ikatan Alumni Sekolah serta pembagian doorprize dengan hadiah yang menarik. Dalam kata sambutannya, Yuli Agus sebagai ketua panitia berharap dengan adanya acara ini bisa menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara alumni SMAN 7 Balikpapan serta sebagai wadah informasi lanjutan kepada setiap anggota ikatan alumni di sekolah. Semua berharap agar acara seperti ini bisa menjadi agenda rutin di masa yang akan datang.
Saudara Yuli Agus (Celana Orange) Ketua Panitia acara Reuni Akbar 2019 (dok. pribadi)

Pemilihan Ketua Ikatan Alumni Sekolah 

Acara kali juga menjadi titik awal terbentuknya Ikatan Alumni SMAN 7 Balikpapan sebagai wadah koordinasi antar alumni sekolah kelak, sistem pemilihan yang lumayan baru, karena polling nama berdasarkan jumlah terbanyak di masing-masing angkatan. Terpilih 3 nama yang memperoleh hasil polling terbanyak disetiap angkatan. Terpilih sebagai ketua IKA SMAN 7 Balikpapan adalah Abang Sahriansyah dari angkatan pertama. Tentunya ini menjadi sejarah baru bagi ikatan alumni dan tentunya kami semua berharap yang terbaik kepada Abang Sahriansyah.
Abang Sahriansyah (kedua dari kiri) terpilih sebagai ketua Ikatan Alumni SMAN 7 Balikpapan (dok. pribadi)
Pak Hasan Japri tidak lupa memberikan informasi tentang upaya sekolah dalam hal pembangun setiap fasilitas yang berada dilingkungan sekolah, beliau menjabarkan perihal pembangunan Masjid yang akan dibangun di lingkungan sekolah SMAN 7 Balikpapan dan berharap kepada alumni untuk bisa berpartisifasi dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar pihak sekolah ini. Pak Hasan Japri menjadi salah satu guru terbaik versi polling yang diadakan oleh panitia penyelenggara acara reuni ini. Beliau mendapatkan nominasi sebagai guru terbaik dengan mendapatkan skor tertinggi dalam polling tersebut, walupun semua dewan guru yang kami cintai merupakan guru terbaik bagi kami semua.
Sudut Foto yang disediakan oleh panitia acara Reuni Akbar (dok. pribadi)

Foto bersama peserta dari semua angkatan (dok. Iwan delta)
Diakhir rangkaian acara ditutup dengan foto bersama semua angkatan dipanggung utama halaman sekolah yang menjadi pusat kegiatan selama acara berlangsung. Wajah-wajah puas nampak terlihat dari semua peserta yang bisa hadir dalam acara ini, terlebih lagi bagi mereka yang beruntung bisa membawa pulang hadiah  karena mendapatkan doorprize yang telah disediakan oleh pihak panitia penyelenggara. 
Video liputan Reuni Akbar SMAN 7 Balikpapan dari Tim Televisi Beruang :



Share:

Sep 28, 2019

Ternyata, Di Balikpapan Cukup Membawa E-KTP Untuk Menjadi Anggota Perpustakaan


“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” (Milan Kuldera)


Perpustakaan  Daerah Kota Balikapapan (dok. pribadi)
Selasa (24/9), saya berkesempatan untuk mengunjungi perpustakaan daerah Kota Balikpapan yang berada di Jalan Kapten Piere Tendean 1, Kota Balikpapan. Sudah sejak lama saya ingin singgah untuk melihat keadaan di bagian dalam bangunan perpustakaan tersebut, selama perubahan bangunan baru tersebut saya belum pernah sekali pun memasuki bangunan perpustakaan Kota Balikpapan ini.

Memasuki bagian depan pintu utama sebelah kanan terdapat layanan pendaftaran bagi mereka yang ingin mendaftar menjadi anggota baru dengan menggunakan sistem komputerisasi, layanan tersebut berupa sistem pendaftaran bagi yang ingin menjadi anggota baru di perpustakaan daerah Kota Balikpapan. Layanan yang cepat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang baru pertama kali ke perpustakaan ini. Saya cukup menyiapkan E-KTP Kota Balikpapan dan memasukkan data yang diinginkan ke layar komputer tersebut dan tentunya data harus sesuai dengan yang tertera pada E-KTP saya. 

Layanan Komputerisasi pendaftaran anggota baru perpustakaan daerah Kota Balikpapan (dok. pribadi)
Bagaimana jika pendaftar belum memiliki E-KTP ternyata tetap bisa menjadi anggota perpustakaan ini dengan menggunakan fotocopy Kartu Keluarga (KK) Kota Balikpapan, ini diperuntukkan bagi warga yang belum sampai syarat untuk memiliki E-KTP tadi. Lalu bagaimana jika yang ingin mendaftar menjadi anggota perpustakaan Kota Balikpapan tapi bukan dari warga Kota Balikpapan sendiri, misalnya mahasiswa dari luar Kota Balikpapan? Dari penelusuran informasi Perpustakaan Balikapapan masih bisa mendaftar dengan syarat telah adanya kerjasama antara universitas tempat mereka kuliah dengan perpustakaan Kota Balikpapan itu sendiri. 

Selesai memasukkan data diri dari komputer tersebut saya langsung ke meja petugas lainnya untuk mengambil foto diri yang akan di masukkan ke dalam kartu anggota perpustakaan baru dan langsung dicetak saat itu juga, jika dihitung-hitung dari mulai proses memasukkan data, pengambilan foto diri sampai percetakaan kartu tidak memakan waktu sampai 10 menit, sangat cepat ternyata. Dan lebih penting lagi, semua proses pembuatan kartu anggota di perpustakaan Kota Balikapapan ini semuanya tanpa dipungut biaya, alias gratis

Pelayanan Yang cepat di perpustakaan daerah kota Balikpapan (dok. pribadi)
Pelayanan yang cepat serta inovasi-inovasi dalam hal pelayanan memang sudah seharusnya dilakukan oleh Perpustakaan Kota Balikpapan, mengingat percepatan dunia informasi dan teknologi sekarang ini. Kecepatan dalam hal pelayanan menjadikan saya merasa senang untuk menikmati setiap layanan yang disediakan oleh perpustakaan Kota Balikpapan.

Bangunan yang besar dan nyaman dengan penambahan beberapa fasilitas pelengkap di sekitarnya menjadikan perpustakaan ini bisa menjadi rujukan bagi warga kota yang ingin menikmati fasilitas peminjaman buku dan beberapa layanan lainnya. Saya juga mencari informasi tambahan di laman situs Perpustakaan Kota Balikpapan guna mencari informasi tambahan yang luput dari pandangan saya di hari itu, dan ternyata ada beberapa fasilitas penunjang lainnya, selain layanan peminjaman buku. Di bawah ini ada beberapa fasilitas yang juga menarik untuk dinikmati berdasarkan informasi dari laman situs perpustakaan daerah Kota Balikpapan tersebut, yaitu:
1. Fasilitas Perpustakaan
- Ruang Layanan Koleksi Anak-Anak 
- Ruang Layanan Koleksi Umum 
- Ruang Layanan Koleksi Referensi 
- Pojok Layanan Koleksi Braille 
- Ruang Terbitan Berkala (majalah dan Koran) 
- Ruang Baca dan Ruang Diskusi yang luas dan nyaman 
- Ruang Layanan Koleksi Digital dan Layanan IT (koleksi CD/VCD, akses internet) 
- Ruang Audio/Visual untuk pemutaran film VCD/DVD 
- Armada Mobil Perpustakaan Keliling 
2. Fasilitas Kearsipan
- Ruang roll o'pack 
- Balikpapan Planning Galery 
3. Fasilitas Umum Lainnya  
- Akses internet gratis 
- Musholla dan toilet 
- Ruang pertemuan 
- Ruang laktasi 
- Akses bagi penyandang difabel 
- Gazebo 

Jadwal layana perpustakaan daerah Kota Balikpapan (sumber: http://dispustakar.balikpapan.go.id/content/11/jadwal-pelayanan)
Fasilitas berupa taman juga  terdapat di area belakang gedung dan dilengkapi pula dengan beberapa gazebo didalamnya menjadi daya tarik tersendiri, kita bisa membaca dengan santai, berselancar di dunia internet atau sekedar berdiskusi sambil menikmati udara yang sejuk disekitarnya. Tapi terlebih dahulu kita men-scan kartu anggota kita di area depan layanan sebelumnya untuk mendata jumlah kunjungan ke perpustakaan daerah Kota Balikpapan ini. 


Taman di bagian belakang gedung perpustakaan daerah Kota Balikpapan (dok. pribadi)
Semoga dengan inovasi yang terus dilakukan serta pelayanan yang cepat selama ini mampu membuat minat masyarakat kota ini untuk melakukan kunjungan ke perpustakaan semakin meningkat dan juga tingkat literasi masyarakat akan semakin meningkat pula. Bukankah kemajuan sebuah kota juga bisa dilihat dari tingginya minat baca warganya. Dalam hal ini Pemerintah kota telah memberikan pelayanan yang maksimal dalam hal penyediaan buku-buku yang bagus dan bermutu. Terimakasih 

Salam Literasi.

 







Share:

Sep 20, 2019

SEBOTOL AIR PEMBUKA CERITA

Santai sejenak (dok. pribadi)

Pukul 17:lewat Wita, waktu jam versi smartphone saya dan motor telah siap untuk menemani perjalan sore ini. Menurut perkiraan cuaca BMKG dan aplikasi di handphone tidak ada peluang hujan sore sampai malam hari ini. Jadi perjalanan kali ini tidak perlu ada rasa was-was akan terjadinya hujan. Seperti biasa, rutenya Gunung tembak-Samboja dan berakhir di Samarinda. Kelengkapan surat motor dicek, kemudian pemeriksaan dari mulai tekanan angin di kedua ban, rem  sampai volume bahan bakar tidak lupa selalu menjadi rutinitas pemeriksaan sebelum berangkat jauh, karena jarak yang akan di tempuh lebih dari 100Km jauhnya.

Beberapa hari belakangan ini kondisi daerah sekitar Kalimantan Timur memang cukup panas dan mulai berasap dibeberapa daerahnya, asap yang sudah mulai nampak beberapa hari ini membuat mata perih ketika melakukan perjalanan, apalagi jika tidak memakai pelindung yang lumayan bagus. Nafas agak terasa berat dan selalu merasa haus. Biar pun kondisi masih seperti ini toh perjalanan rutin tetap harus dilakukan, karena ini adalah bagian dari tugas dan terjadwal tetap dalam setiap minggunya.
                
Perjalanan sore ini masih sama rutenya seperti perjalanan yang kemarinnya, rutenya bahkan saya sampai hafal, posisi letak tikungan dan bahkan daerah mana saja yang agak rusak jalannya. Tempat persinggahan untuk istirahat pun selalu sama, kalau tidak warung di pingir jalan atau di spbu yang berada di beberapa titik jalan.

Spbu yang menjadi langganan ternyata tutup kantinnya, sudah sekitar semingguan ini kantin tersebut tutup. Saya malas mencari tahu mengapa kantin spbu tersebut tutup, karena itu bagian dari tanggung jawab manajemen pengelolanya. Spbu ini menjadi langganan saya karena selain spbu ini telah berusia cukup lama hampir semua karyawannya pun sudah tidak asing lagi wajahnya. Jika ada yang terasa asing bisa jadi dia adalah karyawan baru di spbu itu.           
                               
Warung kai adalah opsi terbaik lainnya juga untuk singgah, posisinya berada di pertengahan jalan antara Gunung tembak-Samarinda, selain berada di kisaran pertengahan KM 50an, pemiliknya  pun sudah cukup kenal. Saya singgah sebentar untuk mendinginkan mesin motor sembari menikmati segelas kopi hitam agak pahit dan sepotong roti kecil. Biasanya butuh waktu 20-40 menit waktu yang saya sisihkan untuk beristirahat di warung-warung pingir jalan selama ini. Bahkan kadang lebih jika saya menemui kawan yang asik buat mengobrol di warung yang saya singgahi, karena bagi saya ada nilai tersendiri ketika bisa berkenalan dengan orang baru dan juga mendengarkan kisah-kisah mereka. Toh pada dasarnya orang akan senang untuk didengarkan cerita perjalanan hidupnya bahkan terkadang ada juga yang sampai menceritakan keluh kesahnya selama hidupnya lalu ada pula yang sampai mengeluhkan kebijakan presiden, kadang aku cuma tersenyum dan mencoba menjadi pendengar yang baik saja.
                
Oke mari kita lanjut.  Setelah santai sejenak ngopi dan mengganjal isi perut dengan sepotong roti, perjalanan di lanjutkan kembali. Tapi ketika dalam perjalanan pulang kali ini sepertinya pencernaan saya bermasalah, beberapa hari ini memang pencernaan saya sedang mangalami sedikit gangguan. Hal ini harus di tuntaskan, karena yang akan saya jumpai tinggal beberapa Km lagi di depan. Kalau sudah seperti ini biasanya yang saya  lakukan hanyalah berharap, berharap tekanan dari dalam perut ini tidak terlalu kuat. Hehehe…
                
Motor terparkir di tempat yang memang sudah disediakan tempatnya. Melepas semua aksesori perlengkapan selama perjalan terus langsung ke kamar kecil yang berada tepat di belakang gedung komplek spbu ini. Di komplek gedung spbu ini berderet  bangunan seperti tempat karyawan, minimarket, kafe serta tempat ibadah bagi konsumen spbu maupun para pejalan yang hendak singgah untuk istirahat, ibadah atau pun lainnya, seperti saya kali ini.
                
Masuk ke dalam minimarket untuk membeli dua botol air dalam kemasan kemudian satu botolnya saya berikan kepada pakle salome yang berada di dekat saya duduk, terima dengan senyuman sambil mengucapkan terimakasih. Dalam perjalan tidak jarang juga kita mendapatkan hal yang sama, selain mendapatkan teman ngobrol tak jarang teman ngobrol tersebut yang akan membayarkan segelas kopi yang kita minum. Saling membeli juga saling membelikan, sebenarnya sama aja ini kalimatnya.
                
Pakle penjual salome ini menjadi teman mengobrol singkat saya kali ini, apakah karena sebotol air mineral sehingga dia mau mengobrol dengan saya atau kah dia pikir dari pada dia sendiri sambil menunggu orang singgah di spbu dan membeli dagangannya. Selain menanyakan soal asap selama kita mengobrol santai dia membahas soal perpindahan ibukota, lalu menceritakan  bahwa dia mempunyai sebidang tanah yang cukup untuk membuat sebuah rumah di daerah yang diisukan akan menjadi ibukota tersebut. Sesekali dia tersenyum dan mengatakan sebuah penyesalan ketika dulu kala pernah ditawari sebidang tanah ukuran yang cukup luas dengan harga yang masih sangat murah di saat itu.
                
Ibukota baru, memang isu ini menjadi top trending. Setelah Presiden mengumumkan rencana pemindahan ibukota  pemerintahan ke Kalimantan Timur, otomatis  pembahasan warga sekitar sini berkisar diisu pemindahan ibukota dan juga jual beli tanah pastinya. Beberapa issue yang berkembang bahkan menjadi liar soal naiknya harga tanah yang sangat tinggi, menjamurnya makelar tanah yang masuk ke daerah-daerah yang disebut-sebut sebagai pusat ibukota pemerintahan baru nantinya, bahkan sampai menggosipkan masalah penggundulan hutan bahkan sampai isu tenaga kerja ketika proyek pemindahan ibukota benar-benar terwujud.
                
Kesimpulannya dia merasa senang-senang saja dengan rencana pemindahan ibukota pemerintahan ke Kalimantan Timur ini, akan ada banyak peluang kelak yang bisa di dapatkan dari hal tersebut. Dan akhirnya saya pun mohon izin dan menyudahi obralan yang tak begitu lama ini, karena melihat jam sudah melewati pukul 20:an. 
                
Terimakasih pakle  salome untuk obrolan singkat kali ini, bisa jadi besok-besok akan kembali bertemu dengannya jika saya kelak singgah di spbu ini, karena biasanya dia berjualan saat hari mulai malam sampai spbu ini tutup.



Share:

Aug 13, 2019

Rombong Sodaqoh Jum'at, Semangat Berbagi Dari Ujung Timur Balikpapan


Masjid Nurul Yaqin, Gunung Tembak-Teritip (Dok. Pribadi)

Siang itu, disuatu hari yang menjadi penghulu dari segala hari atau pada hari Jum'at yang mulia nampak kesibukan sudah mulai terlihat disuatu sudut pertigaan jalan. Selepas ibadah sholat Jum'at, saat sang imam baru saja mengucapkan salam pertanda Ibadah sholat Jum'at telah berakhir anak-anak mulai ramai meninggalkan dan berhamburan dari shaf-shaf sholat mereka.

Anak-anak menyeberangi jalan menuju pertigaan ketempat dimana terdapat deretan rombong yang menyediakan beberapa jenis aneka makanan dan minuman untuk mereka ambil. Deretan rombong tersebut bernama "Rombong Sodaqoh Jumat" yang di kelola oleh beberapa warga sekitar untuk menyediakan makanan dan minuman selepat sholat jumat yang dilaksanakan Masjid Nurul Yaqin, daerah Gunung Tembak Kelurahan Teritip.

Rombong Sodaqoh Jum'at (Sumber: https://web.facebook.com/blacker.liz)

Kegiatan Rombong Sodaqoh Jumat ini berawal dari kepedulian warga sekitar untuk meramaikan serta membagi kebahagian dihari jum'at, dimana banyak sekali faedah yang didapatkan dari kegiatan yang sarat dengan nilai ibadah ini. Wajah-wajah ceria juga terlihat diraut wajah ibu-ibu muda yang membagiakan paket makanan dan minuman kepada anak-anak selepas ibadah sholat jum'at ini. Bukan hanya anak-anak ternyata yang ikut antri untuk mendapatkan paket tersebut, nampak juga orang-orang dewasa dan bahkan orang tua yang ikut mengantri untuk mendapatkannya. Mereka dengan wajah bahagia sembari sabar untuk mendapatkan paket makanan tersebut sesuai dengan seleranya, mungkin karena saat ini ada beberapa jenis makanan yang bisa mereka pilih untuk dibawa pulang kerumah.


Semua berbahagia dengan berbagi (Dok. Pribadi)

Anak-anak sendiri terlihat sangat bersemangat dalam merebutkan makanan atau minuman kali ini tak ketinggalan mereka bahkan berebutan dengan teman sendiri uantuk mendapatkan paket makanan tersebut lebih cepat. Bisa saja itu adalah nilai lebih bagi mereka ketika bisa mendapatkan makanan atau minuman lebih cepat dari rekan seumuran mereka, bahkan tak jarang mereka minta double padahal mereka telah mendapatkannya. "Biarlah, namanya juga anak-anak".

Sumbangan makanan dan minuman semuanya didapatkan dari para dermawan warga sekitar yang memberikannya dengan sukarela, lalu dikemas ulang kedalam plastik-plastik dengan ukuran yang berbeda, jika sumbangan tersebut harus dikemas ulang. Rombong Sodaqoh Jum'at sendiri telah cukup lama berdiri dalam memberikan pelayanannya kepada jamaah Masjid Nurul Yaqin. Awal berdirinya menempati area bagian depan masjid, lalu berpindah ke seberang masjid mungkin seiring dengan bertambahnya sumbangan para dermawan dan efisiensi waktu serta tempat sehingga lokasi rombong dipindahkan keseberang masjid.

Relawan Rombong Sodaqoh Jum'at (Dok. Pribadi)

Melihat keceriaan dan kebahagian diwajah para jamaah masjid akan kehadiran Rombong Sodaqoh jum'at ini saya sendiri berharap kedepannya kegiatan ini agar tetap bisa dipertahankan dan selalu ada disepajang waktu. Pastinya segala kendala dalam kegiatan memberikan pelayanan ini akan selalu ada dan berharap para dermawan bisa terus bertambah, bukan soal nilai dan besarnya bantuan yang diberikan dalam mengisi Rombong Sodaqoh Jum'at ini yang terpenting adalah keberlanjutan kegiatan yang sangat bernilai ini. Salut kepada mereka para relawan pejuang Rombong Sodaqoh Jum'at, sehat selalu agar dapat terus bisa  memberikan pelayanan yang luar biasa ini.



Share:

Aug 2, 2019

Simpang Tiga, Sunyi, Temarang dan Kenangan

Simpang tiga dalam Gunung Tembak kala malam (doc. pribadi)
"Kenangan adalah cara untuk merawat pikiran,kadang-kadang" (kataku)

     Padahal bulek rombong dorong yang menjajakan makanan tahu tek-tek sudah mulai berkemas perlengkapan dagangannya, mas penjual sate ayam sebelahnya juga sudah selesai berkemas dengan jualannya dan mematikan lampu penerangnya. Tak lama datang pembeli terakhir yang sepertinya sudah sangat akrab dan hapal harus dibuat seperti apa pesanannya sesekali melemparkan guyonan untuk membuat suara lain selain suara dari ulekan bumbu kacang tahu tek-teknya.
     Ditemani rekan penjual lainnya seorang wanita yang duluan selesai dengan jualannya karena malam ini pembeli agak sepi, keluhnya kepada bulek tahu tek-tek. Mendangarkan obrolan orang lain adalah kebiasaan saya yang pastinya bukan karena saya ingin sangat tahu atau ingin mencampuri urusan orang lain. Bagi saya mendengarkan adalah bagian dari seni dalam hidup, karena dengan ini saya dapat mengetahui dan menggali sebanyak mungkin informasi apa yang yang terjadi sekitar lingkungan saya.
      Pesanan tahu tek-tek saya sudah dihidangkan dengan seperti biasa,tanpa ada standar-standaran khusus ala cafĂ© atau resto, seperti biasa kuah kacang bercampur bahan lainnya tetap disiram diatas lontong dan beberapa jenis sayur seperti biasa yang dari dulu tetap itu-itu saja bentuknya, yang berbeda dari dulu mungkin bulek penjualnya yang sudah sedikit berubah dari segi fisiknya dan umurnya bertambah pastinya. Oh iya yang berubah hanya media krupuknya, yang dulu langsung di taruh diatas bumbu kacangnya sekarang dengan menggunakan piring terpisah, apakah ini sebagai standar baru dalam hidangan tahu tek-tek di kampung saya. Pastinya dengan adanya piring tambahan berarti harga dari seporsi hidangan ini pun akan bergerak naik, semacam strategi untuk menaikkan harga dengan cara yang cantik.
     “Sekarang sepi Mas”. Bulek itu membuka obrolan denganku, saya bilang aja bahwa memang waktu sudah malam sembari melihat jam di handphone  yang telah menunjukkan pukul 22:15 Wita, sebenarnya belum terlalu juga. Saya tahu bahwa bulek ini telah lama berjualan di simpang tiga ini bahkan beberapa tetangganya pun yang saya kenal juga menjadi penjual di simpang ini. Rasanya tidak ada perubahan atau memang standart rasa tahu tek-tek di kampong ku ini memang seperti ini, seperti paklek satunyan yang tidak berjualan malam ini, itu pun juga dekat dengan jualan bulek ini. Hamper habis makanan dipiring saya walau pun kerupuknya masih tersisa agak banyak di dekatnya, bulek tersebut tetap setia menemai saya sebagai pembeli terakhir di rombongnya.
       Jejeran mobil terparkir di seberang rombong menjadi bahan obrolan saya dan bulek ini, bukan menceritakan siapa saja pemilik mobil tersebut. Jejeran mobil tersebut menjadi bahan obrolan karena dahulu kala tepat dijejeran mobil tersebut adalah jejeran para ibu-ibu penjual makanan dan kue basah ketika malam tiba. Bisa dikatakan bahwa penjual tahu tek-tek ini adalah saksi hidup keramaian kampong ini ketika malam tiba, Cuma saat itu bulek ini masih belu terlalu tua dan saya juga masih kecil kala itu, pastinya.
      Sejarah bermunculannya jejeran penjual makanan kala itu bisa jadi seiring dengan adanya gedung bioskop yang kini gedungnya saja sudah tidak ada Bioskop di kampung saya tersebut perlahan mati dan musnah seiring berkembangnya tehnolgi pemutaran film, awal kemunculan film dalam bentuk media laser disc turut mematikannya atau bisa juga selera penonton yang mulai bergeser seiring dengan makin banyaknya warga yang sudah mampu membeli televisi dimana kala itu harganya lumayan mahal dizamannya. Saat itu pun saya masih ingat ketika sore kita kerumah teman yang sudah memliki televisi hanya untuk menonton serial film kartun atau biasa kami sebut film “kokos” saya pun sampai saat ini malas mencari artinya “kokos” tersebut.
      Masih ingat di benakku ketika gedung biokop tadi memutar film seri saur sepuh yang berepisode-episode itu atau film Rhoma Irama dangan gitar andalannya, maka malam di kampung saya menjadi ramai karena orang-orang dari kampung sekitarnya akan datang untuk menonton film tersebut atau hanya sekedar datang menikmati suasana malam disini.
   “Beda yah Bu dengan malam-malam seperti dulu”, kataku. Buleknya tersenyum sepertinya pikirannya ikut masuk kedalam kenangan waktu dulu ketika melihat keseberang rombongnya yang telah di penuhi jejeran mobil terparkir, penjualnya sudah banyak yang meninggal dunia juga, katanya. Dulu, katanya lagi sewaktu masih ada bioskop kampung ini kalo malam terasa hidup, penjual makanan juga banyak itu belum lagi dengan para penjual yang ikut bermunculan saat ada pemutaran film yang berjualan disekitar bioskop dimana jadwal tayang filmnya bukan tiap malam.
   Makanan didepan saya telah habis bersamaan dengan selesainya bulek tadi mengemas rapi perlengkapan dagangannya. Lampu penerangan yang tidak terlalu terang dimatikan, ditemanin dengan kerabatnya yang datang membantu membawa perlengkapan jualannya dan bulek tersebut jugalah yang mendorong rombong untuk memasuki gang sempit menuju rumahnya. Saya menyampatkan untuk duduk sebentar dimeja ini sembari memandangi pertigaan yang ada tiang listik tepat disudut pertigaannya dengan lampu otomatis yang menjadi penerang jalan kala malam tiba yang telah bebarapa kali di perbaiki ketika lampunya putus.
       Masih ingat di pertigaan tersebut menjadi tempat nongkrong yang zaman sekarang sudah tidak ada lagi budaya tersebut. Pertigaan dimana saat nongkrong juga menjadi penanda terbaginya beberapa kubu anak-anak, ada anak dalam dan anak luar yang dipisahkan jalan yang tidak sampai delapan meter lebarnya. Pertigaan yang masih ada sedikit ruang buat sekedar duduk-duduk menghabiskan malam hingga tak jarang turut melupakan tugas sekolah atau PR kala itu. Pertigaan dimana cerita-cerita lucu mengalir bebas diiringi tawa bebas bahkan bisa sampai melupakan cita-cita bahwa kelak saya ingin menjadi polisi,tentara dan dokter tapi tak pernah serius belajar karena menikmati simpang tiga disetiap malamnya.
       Pukul 22:30,Nampak simpang tiga sudah lengan, temarang ditambah lagi beberapa lampu depan rumah warga juga ikut padam walaupun ada beberapa yang masih menyalakan lampu depannya hingga pagi tiba. Seiring berjalannya waktu sepertinya pola interaksi anak-anak hingga orang dewasa bukan lagi berkumpul seperti dulu, zaman ketika serbuan smartphone yang berisi layanan aplikasi lengkap berisi hiburan dan informasi yang dapat memanjakan dalam mengisi waktu  atau bagi anak-anak bisa membuatnya asik sendiri menikmati game online atau game yang bisa langsung dimainkan tanpa sambungan internet. Pola interaksi berubah sepenuhnya menjadi sedikit individual atau bahkan memang sudah menjadi individual, interaksi berubah menjadi interaksi tak langsung lagi karena media interaksi anatar sesama pun hanya melalui saluran dunia maya  yang di hubungkan dengan saluran jaringan internet walaupun mereka berdekatan jaraknya.
     Pertigaan ini, dan malam ini cukup menjadi kenangan saja. Cerita yang ada kala itu akan tersimpan dengan baik dibenak kami para penikmatnya, lalu akan kami ceritakan kembali cerita kenangan tersebut ketika kami bertemu lagi.     Pertigaan ini semoga akan tetap menjadi titik temu dari tiga masa lintas generasi kampung ini,generasi tua,muda dan generasi akan datang sebagai penerus kehidupan untuk tetap menghidupkan kampung ini, bersama-sama merawatnya dengan penuh kedamaian didalamnya, semoga. (2/8/19)

Share:

May 20, 2018

Ikutan Nge-blog (sembari menikmati puasa)

     Suatu siang di minggu yang sedang-sedang saja cuacanya,saya mulai dengan belajar menuliskan sebuah unek-unek dalam blog yang juga barusaan saya buat,entah ini blog yang ke berapa yang saya buat, sejatinya alangkah susahnya menulis sebuah pemikiran didalam sebuah blog pribadi dibandingkan dengan harus memberikan komentar di kolom-kolom komentar di jejaring sosial. blog ini rencana juga akan terus mendapatkan perbaikan, baik dari sisi tampilan juga konten materinya. Sejatinya menulis itu adalah pekerjaan yang paling sukar, karena harus menuangkan isi kepala kedalam bentuk tulisan
      Terus terang saya merasa iri kepada teman yang mampu membuat tulisan yang enak dibaca,tidak tendensius serta mencerahkan karena saya bisa mendapatkan nilai-nilai yang baru serta pengalaman menarik dari mereka yang memang sudah berpengalaman
    Sebuah Blog bagi saya adalah sebentuk buku harian cuma medianya saja yang berbeda dan pastinya banyak nilai lebihnya dibanding dengan sekedar buku harian. lebihnya karena bentuk media digital dan mudah dicari jika seandainya kita ingin menuliskan sebuah ide tetapi tidak membawa buku harian/diary dimana kita biasa menuliskan sebuah ide. Bagi mereka yang sudah master didunia perblog-an, blog bisa dijadikan sebagai sarana buat kampanye issue yang ingin mereka munculkan-viralkan,blog juga bahkan bisa dijadikan sebagai tempat untuk mencari nafkah karena bayaran seorang bloger cukup menggiurkan.
      Menuangkan ide pemikiran atau sekedar catatan-catan pengalaman pribadi kedalam sebuah blog menjadi tantangan yang sepertinya memang harus dihadapi,apalagi bagi saya seorang pengajar disebuah sekolah swasta di ujung timur Balikpapan. Menulis kembali sebuah pengalaman keseharian pastinya tidak semudah berbicara, karena membentuk kata-kata yang akan bekerja untuk menjelaskan kepada pembaca itulah letak kesukarannya dalam menuliskan kembali sebuah ide,catatan maupun pengalaman kita.
Dan terakhir semoga menulis di blog ini tetap semangat dan berkepanjangan,...biar gak mati.
Terimakasih untuk meluangkan waktunya.
Share:

Wikipedia

Search results

Terjemahan

Total Pageviews

Berlangganan Lewat Email

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *