Mata, Hati dan Pikiran. Catatan-Mataharian adalah sebuah kesimpulan dari Mata, hati dan pikiran dalam keseharian.

Showing posts with label Dampak. Show all posts
Showing posts with label Dampak. Show all posts

Mar 10, 2020

BPJS Batal Naik (bukan opini dari ahli)

BPJS Batal Naik (Dok. Pribadi)
BPJS batal naik,...

TOK,...MA (Mahkamah Agung) pun sudah mengetuk palu (mungkin gambarannya seperti itu) langsung gemanya tersebar sampai ke sosial media, sebuah dunia maya yang bising langsung bereaksi, senang dan bahagia, bahkan mereka dengan ikhlas menyebarkan ke seantero dunia per-sosmed-an. Sebuah dunia dimana suatu kejadian dapat dengan mudahnya menyebar ketangan-tangan para pemegang “sematpon” yang budiman.

BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bisa menjadi sebuah kalimat ajaib yang menyihir para warga +62 untuk bereaksi atas sekecil apapun itu, apalagi menyangkut dengan istilah BPJS ini. Rasanya saya pun pura-pura untuk tidak mengambil pusing dengan kejadian di MA tadi. Maaf pura-pura tidak ambil pusing pasti akan beda pengertiannya dengan tidak mau tahu, walaupun pada dasarnya kita tetap mau tau.

Saya adalah orang yang juga punya masalah dengan BPJS tentunya, ini rahasia sebenarnya. Keputusan yang diambil oleh MA pada dasarnya bisa menjadi angin segar bagi warga negara ini, di bawah bayang-bayang isu virus korona yang telah menghampiri negri ini. Beberapa hari ini kita disibukkan dengan “ketakutan” akan wabah virus korona, ditambah dengan serbuan berita-berita dari media mainstream maupun media "anu" yang begitu all out dalam memberitakan soal wabah ini.

Virus korona yang masuk di Indonesia bisa jadi sebenarnya sudah lama masuk, cuman kita saja yang belum sadar (ini pendapat saya) kepanikan pun terjadi, panic buying entah apa istilahnya pun terjadi apalagi setelah Presiden kita mengumumkannya di media. Dari aksi borong dan timbun masker sampai dengan aksi borong sembako pun terjadi. Rasanya wajar jika hal ini terjadi, yah mengingat itu tadi, media yang sangat gencar mengabarkan akan dampak dan bagaimana proses virus itu menyebar.

BPJS yang ditolak oleh MA semacam pereda sesaat dari kepanikan akan penyebaran virus korona dan teror berita yang menyertainya, teror disini adalah penyebaran berita-berita yang terlalu-lalu alias dibumbui apalah-apalah. BPJS batal naik yang ramai diberitakan dan dibagikan di sosial media juga bagian dari “kepanikan” cuma kepanikan disini bisa berarti lain. Bisa jadi justru pemerintah yang panik dengan keputusan ini.

Akankah pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan lain dari putusan MA kali ini, mengingat defisit yang terjadi pada tubuh BPJS di negeri ini bukan sedikit jumlahnya, konon katanya sampai puluhan trilliun besarannya. Malah uang dari rokok pun dipakai untuk menutupi besaran defisit yang terjadi di tubuh BPJS itu sendiri,heeem..."Rokok". Panik? Sudah pasti lah. Batalnya kenaikan ini akan menambah beban anggaran ditambah dengan kepanikan isu virus korona yang sedang terjadi saat ini. BPJS batal naik menjadi berita baik bagi warga negara dan menjadi berita buruk bagi keuangan negara, nah looh.

BPJS, Korona dan KITA

Bagi warga Indonesia sendiri isu virus korona ini telah mengambil sedikit kelelahan dalam keseharian, kita dihantui dengan beberapa mis-informasi yang berkembang di jagat sosial media. Kita telah di paksa untuk tunduk pada media dengan segala informasinya yang berkembang. Apakah ini semacam candu informasi yang terus diberikan kepada kita. Dampaknya apa? Bisa jadi kita kecanduan dan dipaksa untuk mengikuti setiap alur informasi yang berseliweran di hape canggih kita. Semacam FOMO (fear of missing out) Sekecil apapun perkembangan soal isu korona ini adalah kewajiban kita untuk mengetahuinya lebih cepat.

Sama dengan berita BPJS yang batal naik tadi diatas, berita ini lagi-lagi adalah berita segar nan menggembirakan bagi masyarakat kita dibawah bayang-bayang berita virus korona dengan semua dampaknya yang bisa terjadi jika kita memang lagi apes terkena atau terjangkitinya. Bahkan bisa juga semacam takdir yang tertulis bahwa kita sedang terjangkiti virus korona kelak. Saya berharap kita semua dapat melalui ”cobaan” ini dengan selalu berpikir positif bahwa semua ini akan segera bisa kita lewati bersama. Toh bukan kali ini saja masyarakat dunia berhadapan dengan ujian wabah penyakit yang mematikan. Beberapa puluh tahun silam pun masyarakat dunia pernah di serang dengan beberapa wabah yang sangat mematikan. Mungkin bisa jadi wabah virus berita hoax pun sebenarnya jadi sangat mematikan, minimal bisa mematikan akal sehat kita. 

(ini hanya opini -receh- saya)
Share:

Jul 2, 2019

Tercebur Got dan Dosa Pendamping

ilustrasi (http://www.pulsk.com/65441/)



      Namanya Luqman Al Hakim biasa di panggil Hakim, anak ketiga dari 3 bersaudara. Seorang anak Laki-laki yang tingkat keaktifannya diatas rata-rata dari kedua saudarinya di saat umur yang sama. Saya dan Istri merasakan sekali perbedaan ktika kami memiliki anak laki-laki, harus lebih ektra dalam pengawasan dikesehariannya. Sudah kelihatan tingkat keaktifannya mulai dari kedua lutut yang luka samapai kepala yang "benjol-benjol".

      Ketika anak-anak berada di luar rumah mereka akan berlarian sembari melihat hewan-hewan yang umumnya berada di lingkungan rumah seperti kucing dan ayam. Bagi mereka (anak-anak) kedua hewan tersebut menjadi objek mereka untuk melihat beberapa keunikannya semisal suara ayam yang sedang berkokok sampai tingkah laku kucing yang berada di dekat mereka. Bahkan ktika bangun pagi pun anak kami langsung mencari dari mana sumber suara ayam berasal dan langsung ke arah jendela untuk melihat ke luar rumah. 

      Memberikan kebebasan bermain diluar juga adalah suatu keharusan bagi saya,mengingat anak-anak juga memiliki hak untuk menikmati dunia luar rumah selain daerah dalam rumah dengan aneka mainan plastiknya yang bisa saja bagi mereka ada rasa kebosanan dengan mainan tersebut. Setelah sering kita membaca dan bahkan saya sendiri kadang membahas bersama rekan-rekan tentang dampak smartphone yang berlebihan akhirnya saya sendiri dapat merasakan apa itu dampak dari penggunaan smartphone yang terlalau lama (baca: ketagihan). Sore kemarin cuaca sedang bersahabat beberapa hari terakhir, tidak terlalu panas. anak-anak saya beri kebebasan untuk bermain diluar rumah sperti biasanya. Dari teras rumah saya saya tetap memantau sembari melihat beberapa pemberitahuan di layar smartphone yang saya pegang.


       Sesekali menegur anak yang terlalu pinggir dengan parit disamping jalan depan rumah sembari kembali menatap layar smartpohone siapa tahu ada pemberitahuan yang muncul atau sengaja melihat layar walaupun tidak ada pemberitahuan yang masuk sperti sudah menjadi kebiasaan ktika orang memagang smartphone.Sperti ada suara air di lempar sebuah benda, sontak mata tertuju kepada anak saya yang sedang bermain di pinggir parit tadi melepaskan smartphone dari genggaman dan berkeyakinan bahwa sumber suara tersebut adalah anak saya yang terjatuh kedalam parit.

      Rasa kasian dan lucu bercampur menjadi satu, sambil mengeluarkan dari parit sembari tertawa mengingat bahwa kejadian yang menimpa anak saya tadi tidak lepas dari kecerobahan saya dalam menjaganya. Fokus terbagi antara pengawasan dan layar smartphone dan yang lebih menggelitik bahwa ktika melihat dia di parit saya  langsung mngingat gambar di meme  sosial media tentang anak-anak yang jatuh ke got.



Maafkan Bapakmu ini Nak yang fokusnya terbagi ke layar smartphone ktika mengawasimu.


Share:

Wikipedia

Search results

Terjemahan

Total Pageviews

Berlangganan Lewat Email

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *